Tuhan
Oleh Titin Kurniasih*
“ Hai manusia sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”(Q.S).
Kutifan firman Allah di atas, yang indah itu memberikan pemahaman kepada kita tentang satu perintah khalik kepada abidnya (manusia) untuk menyembah Allah, sebab Dialah Tuhan yang telah menciptakan segala yang ada dialam jagad raya ini beserta isinya.
Jika kita mau jujur dan mengkaji agama islam secara seksama, bahwa Allah merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Seperti yang termaktub dalam dua kalimat syahadatain. Namun, akan berbeda dengan agama non Islam. Sebut saja Kristen, Budha , Hindu dls.
Ambil contoh dalam umat Kristen penganutnya menyembah Tuhan Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Pengkelompokan Tuhan tersebut dikenal dengan sebutan Trinitas bagi orang-orang Katolik saja.
Dengan demikian, setiap agama dipastikan mempercayai dan mempunyai apa yang disebut dengan Tuhan, baik secara mmateri mmaupun imateri ataupun yang tampak dan tidak tampak alias euweuh teuing dimana, taapi terasa bak kentut. Namun, yang jelas itu semua ada karena ada penciptaannya dan yang berujung pangkal dari aspek keyakinannya (tauhid). Sekalipun orang yang mengaku dirinya ateis. Sebagai anekdot mereka tidak mempercayai adanya Tuhaan itu, manakala sedaang nonton acara TV sebut saja. Yaakni pinaal bola antara intermilan dan Juventus. Lantas, orang tadi mendukung Juventus. Karena juventus maniaknya, tiba-tiba di menit-menit terakhir kebobolan 2 kosong oleh intermilan itu. Maka dengan serta merta ia berteriak histeris sambil berkata “oh.. my Good”.
Ilustrasi tersebut berarti memberikan pemahaman kepada kita tentang orang ateispun masih mempercayai adanya Tuhan. Walaupun berbeda dengan kita yang harus kaku dan rigid alias Formal.
Dengan kata lain, golongan itu yang mengandalkan penuh kepada kekutan akal. Para penganut atheis menganggap dengan akalnya bisa berfikir dan menjalankann kehidupan dunia. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka telah mendewakan atau menuhankan akalnya.
Berekenaan dengan persoalan di atas, Tuhan sendiri dengan tegas berfirman melaalui kitabnya, yakni aal-Qur’an yang tertulis dalam Q.S. 3:18 mengatakan ”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan–yang berhak disembah–melainkan Dia, yang menegakan kedailan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu–juga mengatakan yang demikian itu.
Dengan begitu, Tuhan menegaskan kepada kita tentang keberadannya yang harus di unggulkaan tanpa terkecuali. Apalagi dinomor duakan, sebab perbuatan itu termasuk kedalam perbuatan Syirik dan orangnya disebut Musrik.
Selain masalah di atas, masih banyak lagi permasalahan tentang perkerjaan yang dapat mendorong kita kepada kecelakaan, baik di mata Tuhaan maupun di manusia. Yakni masih menggikuti hawa napsu dalam menyakini adanyaa Tuhan. Pendek kata, kitaaa massih memiliki rasa keraguan aakaan adanya Tuhan ini, dengan dalih belum mengenal Tuhan. Bahkan, belum merasakan kehadiran Tuhan secara nyata dan terlihat oleh kasat mata kita. Namun lagi-lagi, karena keabstrakan Tuhan yang tidak bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, tetapi kita bisa merasakannnya.
Lantas, seberapa jauhkah manusia dapat “merumuskan” Tuhan? Padahal pada kenyatan histories manusia justru untuk merasakan keberadaan-Tuhan, tiada lain harus dengan dengan mengenal Tuhan sendiri. Bisa melalui symbol maupun penamaan yang banyak.
Dalam perspektif parenial, secara histories Tuhan mempunyia banyak nama yang terekspresikan kedalam berbagai agama dan tradisi. Kalau kita lihat lebih jauh lagi bahwa orang-orang Arab pra islam zaman dulu telah percaya kepada Allah. Mereka juga percaya bahwa Allah-lah yang menciptakan jagad raya–seluruh yang ada dilangit dan dibumi, serta yang menurunkan hujan, dls. Allah dalam pengertian dewa penyubur atau dewa peternakan. Seperti yang dikutif oleh K Amsstrong dalam sejarah Tuhan
Kendatipun demikian, dengan sendirinya dapat disebut sebagai kaum beriman, bukan juga disebut dengan kaum bertauhid, bahkan sebaliknya. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa pengertian orang-orang Arab tentang “Allah”masih diselimuti kaum mitologi.
Kembali kepersolan; bagaimana merumuskan Tuhan dalam bahasa pada kenyataannnya wujud kaki selain tuhan atau yang membutuhkan oleh Allak Swt. Tuhan hakiki adalah pola pertanyaan tersebut untuk mnyembah Allah,
Pada pernyataan dalam hitungan mesti orang yang bertaqwa.. setiap kita menjalankan kalupun atau ritual yang telah menceritakan masakan nasi yang pimhim skalo sengan keremuan dalam budaya local, di dunia jangan sekolah ritual yang telah tercantum dalam kitab suci kita melakukannya imat atau relevan. tidak ada unsure paksaan edisi dalam hati kita, dengan ritual yang telah kita lakukan?
